Jangan Salahkan Gitarmu

Ini adalah pelajaran penting yang saya dapatkan dari guru musik SMA saya dulu. 

Petuah ini hadir saat saya masih di masa awal belajar nggenjreng dari beliau. Kala itu, yang saya punya hanya gitar akustik (-akustikan) warna merah seharga seratus ribuan, yang menyakitkan jari kalau dimainkan karena jarak senar dan fret bagai langit dan dasar sumur. Maafkan.

Kurang lebih begini bunyinya.

Jangan pernah salahkan gitarmu. Gitaris handal adalah yang tetap bisa bermain keren meski dengan gitar kualitas apapun, jelek ataupun bagus

Betapa tidak jleb!?

***

Kamu mau terus-terusan menyalahkan kondisimu?! Atas segala keterbatasan yang kamu miliki sekarang, apakah cuma akan kamu keluhkan lagi dan lagi?!

Hei bro, meski masih belum punya ini-itu, belum bisa ini-itu, kamu tetap bisa maju dan berkarya bro. Jangan salahkan kondisi, tapi kerenkan diri dengan yang ada saat ini.

Kira-kira begitulah jika petuah guru saya tadi digeneralisasikan.

***

Sekarang gitar sudah lumayan. Tidak bikin sakit. Masih mau menyalahkan gitar lagi? 

Rezeki Tak Terduga

Pernahkah anda mendapatkan rezeki tak terduga dalam hidup ini? 

Inilah salah satu yang bikin hidup selalu lebih seru!

Bayangkan, misalnya, bertahun-tahun Anda memimpikan punya iMac. Tapi mengingat harganya yang selangit versus gaji yang baru setiang listrik, iMac tersebut benar-benar hanya dalam mimpi. 

Tiba-tiba, ndilalahnya, seseorang yang baik hati menjadi perantara rezeki yang tak terduga. Anda dikasih iMac. Dikasih! Free!

Weleh-weleh!

Rezeki tak terduga Anda mungkin bukan iMac, tapi saya percaya Anda pasti pernah mendapatkan nikmat semacam ini. Bisa jadi dapat nilai A untuk mata kuliah yang Anda sebenarnya babarblas nggak paham, atau dapat beasiswa padahal daftar-pun tidak, atau yang lainnya. Rasanya indah, bukan? 

Maka sekali lagi monggo bersama-sama kita syukuri. InsyaAllah bisa bertambah lagi. Nah, supaya rezeki jenis ini makin bertubi-tubi menghampiri kita, kuncinya satu: bertaqwa.

Berbakat dan Tidak

Ada latihan futsal di kantor. Seluruh karyawan laki-laki hingga bos ikut latihan.

Boni, lulusan sarjana yang baru masuk pekan lalu, turut serta agar ia cepat kenal dan adaptasi dengan lingkungan barunya.

Latihan berlangsung seru, menyerang silih berganti, dan puluhan gol pun tercipta.
Dari sekian banyak orang yang bermain, Boni si anak baru jadi omongan.

Bagaimana tidak, 10 gol dan 7 assist dia bukukan di latihan perdananya di kantor barunya. Belum lagi intercept-intercept yang sukses mematahkan serangan lawan. Beuh, ajib!

Semua memuji, semua mengakui, termasuk sang bos, managernya.

“Boni, wah, hebat sekali kamu ini! Jago sekali! Sering latihan ya?”, kata si bos.

“Ya lumayan pak. Waktu kuliah dulu bisa 3 kali dalam seminggu.”, ucap Boni lugu.

“Ooo ya pantas kalau begitu. Hebat karena sering berlatih. Beda cerita kalau Pak Suni itu. Nggak pernah latihan, tapi rajin bikin gol kalau udah main. Hahaha. Pak Suni itu jago karena bakat.”, kata bos sambil menunjuk kepala HRD-nya itu.

Sementara di sudut tempat duduk, seseorang bergumam dalam hati, “Lalu apalah aku ini, sudah tidak berbakat, latihan pun aku tak mau.”

Pagi

Saya suka pagi.

Dinginnya, heningnya, dan gelapnya, adalah padu-padan ciamik bagi siapa pun yang ingin merenung dan berpikir dengan kepala jernih. Faktanya pun demikian, saya lebih nyaman mengerjakan tugas-tugas kantor –yang terbawa sampai rumah- di waktu-waktu ini, dibanding begadang ditemani kopi tapi tetap ngantuk tak tertahankan. Tengklak-tengkluk ­mirip boneka.

Ibarat orang mau lomba lari, pagi adalah saatnya siap-siap. Pemanasan, meregangkan otot, dan mengatur strategi. Jika bangun pagi selalu jadi kebiasaan, insyaAllah aktifitas-aktifitas seharian lebih tertata dan teratur.

Musuh dari menikmati pagi tentu saja adalah ketiduran. Orang mungkin berpikir ini hal yang tidak disengaja dan tidak bisa dihindari. Kalau sudah ketiduran, ya ketiduran aja. Tidak bisa dicegah. Padahal sejatinya tidak karena dengan kemauan yang kuat dan tindak nyata, insyaAllah tidak ada namanya ketiduran.  Tidur jangan kemalaman, set alarm, raup ketika berhasil bangun, dan coba sedikit aktifitas fisik.

Terakhir bagi yang muslim, mau kan dikasih dunia dan seisinya? Bahkan lebih-lebih! Itu, hanya ada dipagi hari.

Selamat menikmati pagi.

 

*Gambar diambil dari sini

Kunci Kepemimpinan

Malam hari itu kami ngobrol-ngobrol sejenak sambil menunggu kereta datang.

Ketika satu dari kami bertanya apa kunci agar jadi pemimpin yang baik, pak manager pun membuka rahasianya.

“Oke. Sekarang saya mau cerita soal simbah saya. Dulu beliau pernah menasihati saya begini:

Kalau kamu jadi pemimpin, memimpin apapun itu, entah bos, entah di pekerjaan, bahkan memimpin komplotan perampok sekalipun, kamu akan sukses jika bisa memegang satu hal ini. Kuncinya cuma satu ini:

Adil.

“Yap, adil. Adil dalam hal apapun kepada orang-orang yang kamu pimpin.”

Tubuh kami terdiam, tapi hati kami mengangguk sangat dalam.

Lebih jauh soal adil ini, Pram telah menulis dalam Bumi Manusia-nya:

Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.

– Pramoedya Ananta Toer

***

Cling #20

Gemuruh terdengar suara suporter bola. Bukan chant, hanya mengingatkan tim pujaan agar tak sekedar mementingkan ball possession semata:  

Ojo kesuwen, ndang digolke!!

***

Nasihat yang sama juga berlaku kepada para procrastinator:

Ojo kesuwen, ndang rampungke!!!

Tambahan biar makin kejam:

Soyo suwe soyo numpuk, marai mumet!!!

Lima Syarat Seorang Ksatria

Baru saja saya selesai membaca sebuah roman kenamaan karya penulis tersohor, Pramoedya Ananta Toer, yaitu Bumi Manusia. Satu dari 4 buku Tetralogi Buru.

bumi manusia
Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer

Sangat sedikit buku bacaan yang saya selesaikan dengan cepat karena memang malas membaca, kecuali memang sangat menarik. Tebal-tipis deretan halaman tak masuk pertimbangan. Contohnya buku Pram itu. Tak kurang dari 500 halaman, tapi selesai dalam 3 hari-3 malam saja. Tentu kesimpulannya sudah jelas dan memperkuat fakta umum bahwa roman ini sudah diterjemahkan ke puluhan bahasa lain: yap, ceritanya memang buuaaagus.

Tak bermaksud meresensi atau mengulas, saya hanya mencomot sedikit saja dari roman tersebut. Sedikit nasihat yang semoga berguna untuk siapa saja yang ingin jadi ‘ksatria’.

Adalah nasihat dari seorang Ibunda bersahaja asli pribumi Jawa kepada sang putra lekaki kesayangan, Minke, di detik-detik menjelang pernikahannya pada zaman kolonial. Saat didandani bundanya, Minke yang berdarah Jawa tapi hampir selalu dilingkupi pendidikan Eropa itu, tergopoh menjawab pertanyaan Bundanya.

“Apa syarat-syarat satria Jawa?”

“Sahaya tidak tahu, Bunda.”

“Husy, Kau yang terlalu percaya pada segala yang serba Belanda. Lima syarat yang ada pada satria Jawa: wisma, wanita, turangga, kukila dan curiga.”

Sebagai pemuda terdidik, tentu Minke paham arti literally dari kelima-limanya. Tapi saat ditanya perlambang apakah mereka itu, ia tak tahu. Sungguh.

Dan inilah penjelasan sang Ibunda. Langsung saya kutip dari naskah tanpa merubah.

“Pertama wismaGus, rumah. Tanpa rumah orang tak mungkin satria. Orang hanya gelandangan. Rumah, Gus, tempat seorang satria bertolak, tempat dia kembali. Rumah bukan sekedar alamat, Gus, dia tempat kepercayaan sesama pada yang meninggali …”

“Kedua wanita, Gus, tanpa wanita satria menyalahi kodrat sebagai lelaki. Wanita adalah lambang kehidupan dan penghidupan, kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan. Dia bukan sekedar istri untuk suami. Wanita sumbu pada semua, penghidupan dan kehidupan berputar dan berasal. Seperti itu juga kau harus pandang ibumu yang sudah tua ini, dan berdasarkan itu pula anak-anakmu yang perempuan nanti kau harus siapkan.”

“Ketiga turangga, Gus, kuda itu, dia alat yang dapat membawa kau kemana-mana: ilmu, pengetahuan, kemampuan, ketrampilan kebisaan, keahlian, dan akhirnya-kemajuan. Tanpa turangga takkan jauh langkahmu, pendek penglihatanmu.”

“Keempat kukila, burung itu, lambang keindahan, kelangenan, segala yang tak punya hubungan dengan penghidupan, hanya dengan kepuasan batin pribadi. Tanpa itu orang hanya sebongkah batu tanpa semangat.”

“Dan kelima curiga, keris itu, Gus, lambang kewaspadaan, kesiagaan, keperwiraan, alat untuk mempertahankan yang empat sebelumnya. Tanpa keris yang empat akan bubar binasa bila mendapat gangguan…”

Lalu segera disambut:

Sendiko dawuh, Buk!“, jawab saya mantab.