Hari Ini di Surabaya

Mungkin hari ini libur nasional. Tapi bagi teman-teman buruh, ini adalah hari raya!

Sejak pagi radio Suara Surabaya (SS) sudah mengabarkan di udara tentang agenda besar hari ini. Seperti biasa, ketika ada ‘gawe’ semacam ini, kepolisian adalah pihak nomer satu yang wajib dihubungi oleh SS, dikaruhke, dan diharap-harapkan jasanya kalau-kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Untunglah, mendengar runtutan informasi persiapan-persiapan dari seorang pimpinan kepolisian di ujung telepon, membuat saya tenang. Semua sudah diantisipasi.

Surabaya ramai sekali di beberapa titik kota. Selain massa buruh dari dalam kota sendiri, sedulur buruh luar daerah yang merasa senasib-sepenanggungan juga turut serta bergabung. Yang dekat seperti Sidoarjo & Gresik, sampai yang agak jauh hingga Mojokerto & Pasuruan. Ramai. Mengutip Bu Risma pagi tadi, “Ya mau gimana lagi, Surabaya kan ibukota provinsi. Kantor gubernur, kantor DPRD ada disini semua. Ya wajar kalau teman-teman buruh dari luar Surabaya juga datang ke sini.”

Dari beberapa poin tuntutannya, teman-teman buruh masih berfokus pada upah minimum yang dirasa masih minim itu. Tuntutan lain adalah penghapusan sistem kerja kontrak. Gubernur Jatim menampung semuanya dan berjanji akan mengawal pembahasannya.

Saya rasa pemprov Jatim cukup mumpuni dalam mengelola aspirasi masyarakatnya, minimal dalam urusan memastikan aksi masa berjalan damai & memastikan aspirasinya sampai. Padahal jika di daerah lain, isu-isu yang diangkat bisa saja berujung kurusuhan.

Coba ingat masalah transportasi online. Di daerah lain diwarnai mogok angkot, bahkan sweeping-sweeping-an. Nah di Jatim, para wakil-wakil supir angkot justru diajak makan malam di Gedung Grahadi bersama gubernur untuk ngobrol dan diskusi yang enak, tidak pakai acara mogok narik segala. Dan hari ini, kembali, kepiawaian serupa diperlihatkan kembali oleh pemprov.

Tapi jangan lupa juga, sebaik-baik pemerintah daerah mengelola massa, kalau massa-nya sendiri bebal dan ngeyelan, ya susah. Maka credit point juga wajib diberikan kepada teman-teman buruh di Jatim yang kooperatif dan santun dalam berunjuk-rasa.

Saya kira ini adalah contoh berdemonstrasi & berdemokrasi yang baik dan bisa ditiru.

Aksinya damai, aspirasinya sampai.

Foto diambil dari sini.

Pagi

Saya suka pagi.

Dinginnya, heningnya, dan gelapnya, adalah padu-padan ciamik bagi siapa pun yang ingin merenung dan berpikir dengan kepala jernih. Faktanya pun demikian, saya lebih nyaman mengerjakan tugas-tugas kantor –yang terbawa sampai rumah- di waktu-waktu ini, dibanding begadang ditemani kopi tapi tetap ngantuk tak tertahankan. Tengklak-tengkluk ­mirip boneka.

Ibarat orang mau lomba lari, pagi adalah saatnya siap-siap. Pemanasan, meregangkan otot, dan mengatur strategi. Jika bangun pagi selalu jadi kebiasaan, insyaAllah aktifitas-aktifitas seharian lebih tertata dan teratur.

Musuh dari menikmati pagi tentu saja adalah ketiduran. Orang mungkin berpikir ini hal yang tidak disengaja dan tidak bisa dihindari. Kalau sudah ketiduran, ya ketiduran aja. Tidak bisa dicegah. Padahal sejatinya tidak karena dengan kemauan yang kuat dan tindak nyata, insyaAllah tidak ada namanya ketiduran.  Tidur jangan kemalaman, set alarm, raup ketika berhasil bangun, dan coba sedikit aktifitas fisik.

Terakhir bagi yang muslim, mau kan dikasih dunia dan seisinya? Bahkan lebih-lebih! Itu, hanya ada dipagi hari.

Selamat menikmati pagi.

 

*Gambar diambil dari sini

Sisi Lain Pemilu di Akar Rumput

Hari-hari ini, banyak pengamat (dan yang bukan pengamat) telah bicara berbagai kemungkinan pasca pemilu nanti. Bagaimana jika si A yang jadi presiden, bagaimana jika partai X yang mendulang suara terbanyak, dan bagaimana jika-bagaimana jika yang lain. Berbekal track record masa lalu dari berbagai partai dan tokoh, serta menilik visi,misi dan gagasan yang mereka bawa (walaupun saya kira hanya sedikit yang memperhatikan ini), berbagai prediksi tentang kemana arah negeri ini akan dituntun berikutnya, telah bermunculan di sana-sini.

Bahasan-bahasan tersebut lingkupnya besar: nasional. Benar bahwa pemilu adalah agenda nasional, sehingga hasilnya pun harus dibahas di skala itu.

Tapi ijinkan saya menyingkir sejenak dari hiruk-pikuk di lingkup yang amat luas itu. Ijinkan saya menyajikan apa yang terjadi di tataran yang lebih rendah, di lingkup yang lebih kecil, yakni di masyarakat pedesaan. Karena keterbatasan saya, hanya 2 contoh berikut yang bisa saya sampaikan langsung dari akar rumput.

Yang pertama, adalah cerita dari desa tempat KKN saya dulu di tahun 2012. Waktu itu kami –saya dan teman sekelompok KKN- ber-KKN di tanah Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Seperti kebanyakan KKN lainnya, hubungan antara kami dan masyarakat kian hari kian erat. Hingga sampailah cerita-cerita yang ‘dirasa tabu’ itu kepada kami.

Bapak kepala desa waktu itu sungguh luar biasa. Dengan aba-abanya, hampir seluruh warga desa mampu digerakkan. Kecuali beberapa orang yang enggan, tidak mau datang di setiap acara desa. Apapun itu. Padahal beberapa orang itu dan kepala desa dulunya adalah teman karib. Bahkan pak kepala desa sendiri yang bercerita, bahwa mereka dulu adalah kopatriot dalam hal memancing.

Tapi semuanya berubah setelah pemilihan kepala desa. Pak kades terpilih yang notabene kader dari partai P bersaing dengan kawan karibnya itu, yang bernaung di bawah partai Q. Singkat cerita, pak kades terpilih dan kawan karibnya ini semacam tidak terima atau bagaimana saya kurang paham. Hingga pada akhirnya berbuah keengganan bermasyarakat, bahkan tak mau tegur sapa.

Yang kedua, mirip-mirip tapi tak 100 % serupa. Bedanya, yang kedua ini terjadi baru-baru ini (bahkan masih berlangsung hingga hari ini) dan di desa saya sendiri. Saya jadi saksi hidup betapa pemilu kali ini seolah-olah justru mengobrak-abrik jalinan kuat antar tetangga yang telah ada sebelumnya.

Mudahnya, ada dua partai besar yang sedang coba mencaplok mayoritas suara di desa saya. Satu adalah partai yang 2009 dulu menang telak di desa, satu lagi baru masuk ke desa tahun ini. Partai yang dulu menang itu, sayangnya, wakilnya di dewan tak terlalu memperhatikan warga desa kami. Merasa sakit hati dan tidak percaya lagi, mayoritas warga desa mulai mencari wakil baru dari partai lain. Gayung bersambut. Ada caleg yang sedang coba melebarkan sayap, meraup suara dari lahan-lahan basah yang belum pernah ia garap sebelumnya. Beberapa bulan lalu, caleg baru ini sukses besar mengaspal jalanan desa dan menurunkan tiang listrik dari dana pemerintah. Hasilnya, ia dapat perhatian dari tokoh-tokoh desa, dan itu berarti juga dari hampir seluruh warga desa.

Sementara itu, kader-kader partai lama juga masih tersisa, dan tentu saja tidak suka. Bisa ditebak, suasana masyarakat jadi tak karu-karuan. Belum lagi ada caleg dari partai lain, walaupun tak banyak pendukungnya, keberadaannya cukup menambah kehidupan jadi makin abu-abu tak jelas. Hari-hari ini, saya sungguh sedih karena selalu saja muncul sekian banyak gunjingan-gunjingan tentang ketidaksukaan antar berbagai pihak tersebut diatas yang terselip disetiap pembicaraan. Padahal, sekali lagi, dulunya orang-orang itu bersahabat. Ada bahkan dua diantaranya adalah karib dalam dunia rawat-mewarat burung peliharaan. Tapi semua itu berubah, bukan ketika Negara api menyerang. Melainkan ketika para caleg berdatangan.

***

Saya pernah dengar teori macam ini: sebesar apapun Negara, ia tetaplah tersusun dari komponen-komponen kecil, yakni masyarakat. Jika mayoritas masyarakatnya baik, baik lah Negara itu. Pun sebaliknya. Entah itu benar atau tidak, saya kurang tau.

Tentu saja dua contoh diatas hanya contoh kecil saja. Tapi saya hanya khawatir jika di tempat lain yang terjadi tidaklah jauh berbeda. Harmoni yang telah dibagun lama di masyarakat sebelumnya, justru harus jadi korban sebuah agenda pesta nasional bernama pemilu. Saya juga takut jika 2 contoh tadi juga dialami banyak orang di banyak tempat, hingga akhirnya merefleksikan keadaan di lingkup yang lebih besar: negara.

Jika memang iya, tak salah bahwa salah satu sisi lain dari pemilu ini adalah justru memecah belah masyarakat, memecah belah Negara.

Maaf, saya dididik di lingkungan engineering yang nol besar soal ilmu sosial politik. Ini murni pengamatan dan pemikiran dangkal saya lho ya. Hehe. Lantas, bagaimana di daerah anda?

WhatsApp, Bro!

Anda pasti kenal aplikasi yang satu ini.

Menempati peringkat dua di klasemen Google Play Store kategori Top Free, jelas merupakan bukti yang nyata kepopulerannya. Kemudahan dalam penggunaan, kemampuan mengirim berbagai macam file, emoticon yang beragam, dan keasyikan obrolan dalam grup, merupakan beberapa alasan kenapa aplikasi ini disukai banyak orang.

(Tiga kata terakhir dalam paragraf diatas mengingatkan theme song film Wiro Sableng. Ah, lupakan)

Bagi saya, WhatsApp akhir-akhir ini memang sangat bermanfaat dalam banyak hal. Dari yang hanya sekedar guyon dengan sahabat, hingga turut serta dalam sebuah rapat. Dari mengagendakan sebuah janji, hingga berbagi berbagai informasi. Bahkan beberapa hari yang lalu, WhatsApp telah membantu pencarian dana bantuan untuk perawatan tetangga saya yang sedang sakit tumor. Luar biasa!

Namun, layaknya hukum alam bagi sebuah teknologi, selalu ada yang negatif dibalik yang positif. Misalnya, kita jadi keasyikan ber-WhatsApp ria tanpa memperdulikan waktu dan keadaan sekeliling kita. Ber-WhatsApp yang hukumnya mubah, justru kadang mengalahkan yang wajib seperti ibadah. Sering juga kita secara tidak sadar ‘mengasingkan diri’ dari sekitar. Ada banyak orang yang siap diajak bertukar sapa di sekeliling kita, tapi kita justru asyik dengan smartphone kita. Ini tak sepenuhnya salah, hanya perlu porsi yang adil antara bersosial lewat sosial media, dengan bersosial lewat interaksi nyata.

Akhirnya, kita selalu berharap sebuah teknologi selalu membawa lebih banyak kemanfaatan daripada kesia-siaan. Sehingga tidak ada aplikasi baru yang bernama: WhatsWrong. Hehe.

*gambar diambil dari sini

Sahabat Lintas Generasi

Hardi dan Udin adalah bukti sohib yang solid. Konco Kenthel. Kenthel Byanget!

Usia mereka kira-kira 5-6 tahun diatas saya. Tapi tak menghalangi mereka untuk membolehkan saya menghabiskan masa kecil bersama keduanya dan teman-teman lainnya. Cari ikan di kali a.k.a memet adalah aktifitas yang paling saya ingat ketika bermain bersama mereka, selain bermain kartu remi, perang-perangan, dan membuat mercon. Tentu masih banyak lagi.

Setahu saya keduanya juga bersekolah di sekolah yang sama sejak SD hingga jenjang SMA. Tak heran jika ikatan antar keduanya luar biasa kuat. Ditambah satu fakta lain, yakni rumah mereka yang sangat berdekatan. Satu di timur rumah saya, satu lagi di utara rumah saya. Jika barat rumah saya bukan sawah, dan selatan rumah bukan jalan, barangkali saya sudah dikelilingi empat sekawan-sahabat-sejati.

Kini keduanya telah menikah, dengan istri nya masing-masing tentu saja. Keduanya juga telah dianugerahi putra. Hardi dua, Udin satu.

Walau mereka kini tak lagi sering main bersama seperti dulu, nampaknya persahabatan yang mereka jalin tetap terjaga. Bahkan layaknya gen, ia menurun hingga ke generasi berikutnya. Yap. Anak-anak mereka juga ber-konco kenthel. Juga Kenthel Byanget!

Tyo (putra Hardi) dan Atif (putra Udin) hampir setiap hari main bersama. Sekedar mainan truk, bergumul di tumpukan pasir, atau praktek takbir keliling. Pagi-pagi sekali mereka sudah saling menghampiri, mengajak. Contohnya pagi ini. Dari rumah saya sudah terdengar teriakan ngeng-ngeng-ngeng. Sedang main mobil-mobilan mungkin.

Saya tak tahu pasti kenapa Tyo dan Atif juga sangat sohib seperti kedua bapaknya dulu. Tapi ini bukti bahwa persahabatan bisa diwariskan antar generasi. Semoga saya pun bisa demikian. Kelak.

Tyo dan Atif
Tyo dan Atif