Jadi Tadi Itu …

Katanya perjalanan paling berat itu adalah ke masjid. Saya, di pagi subuh itu, beruntung sekali bisa menempuhnya. Tumben-tumbenan.

Jarak kosan ke masjid terbilang hanya sak plintengan, 400 meter saja (hasil dari google maps). Saya hanya jalan kaki karena tak punya motor di perantauan ini. Melewati beberapa blok rumah, dari yang mewah hingga yang kosong.

Masjid tinggal 50 meter lagi. Saya jalan terus, hingga ada sesuatu yang mengusik pandangan saya.

Ada sesosok wanita berbaju putih, bukan jubah tapi seperti piyama. Dia berdiri di teras sebuah rumah sebelah kiri jalan. Tangannya bergerak-gerak seperti sedang pemanasan sebelum senam. Karena kaget, saya tak sempat memastikan kakinya ngambah lemah atau tidak.

Buru-buru saya palingkan muka ke depan. Mau lari tapi saya malu sama Gusti. Karena kalaupun itu hantu, masa takut sih. Kan sama-sama ciptaan-Nya. Seperti kita sama kucing.

Welok. Standing party, eh, standing applause!

Tapi pada detik itu, 80% pikiran saya masih belum yakin kalau itu lelembut. “Mungkin si penghuni memang lagi mau olahraga pagi”, batin saya. Memang di komplek perumahan itu kadang sudah ada yang jogging meskipun masih pagi buta.

Fast forward, sholat subuh sudah selesai. Saya pulang ke kosan lewat jalur yang sama. Penasaran dan ingin memastikan, saya lihat lagi rumah yang tadi. Ternyata si wanita sudah tidak ada. Anehnya lagi, ternyata rumah tersebut sudah dipasangi banner bertuliskan DIJUAL dengan ukuran agak besar. Dan lagi, banner itu dipasang hampir mepet dengan pintu depan rumah. Yang artinya, tidak mungkin rumah itu dihuni. Mau lewat mana penghuninya kalau pintu depan saja ketutup banner.

“Ooo, jadi tadi itu beneran hantu.”

 

Advertisements

Tentang Buku dan Membaca

Selain Power Ranger, saya bersyukur pernah dikenalkan dengan Bobo ketika saya kecil. Sudah tak terhitung berapa jumlah majalah berlogo kelinci itu sejak pertama kali ibu membelikan saya dulu. Saking eman-nya, tumpukan majalah itu baru saya izinkan untuk dijual kiloan tahun lalu, sekitar 18 tahun sejak saya pertama kali membacanya. Saya susah move on tapi untungnya saya tidak menangis waktu itu.

Bukan apa-apa. Bobo telah membekali saya dengan hal sepele namun maha penting. Itu adalah kesukaan membaca. Jujur saya hampir selalu membaca cerpen di majalah tersebut tetapi tentu saja setelah berbagai komik, ulasan tentang mainan super mahal yang tak mungkin terbeli, rubrik Bona dan Rong-Rong, kisah Nirmala dan 7 kurcaci dan semuanya-selain cerpen- habis saya baca.

Tidak saya sadari ternyata cerpen-cerpen tersebut yang kini membekas pada diri saya. Bukan tentang isi ceritanya melainkan tentang habit suka membaca-nya. Bagi seorang bocah desa macam saya dulu, membaca cerpen 2 halaman penuh itu bukan perkara mudah. Perlu kesabaran, kemauan, dan yang paling penting adalah keterpaksaan karena edisi baru tak kunjung terbit.

Itulah barangkali yang membuat saya kini betah membaca cerita-cerita yang lebih panjang seperti di dalam novel, membaca buku-buku yang (agak) tebal, dan rajin blogwalking sana-sini, meskipun novel terakhir yang saya beli belum rampung dan saya kasih ke seseorang. Dia suka sih. Hehe.

Walaupun (mengaku) suka baca, percaya atau tidak, belum banyak buku yang saya lahap (lho? piye to, zal?). Itu terjadi karena ketakutan saya yang berlebihan. Paranoid super lebay atas kekhawatiran bahwa buku bisa saja menyeret pemikiran saya ke arah kiri berimbas pada pilihan bacaan saya. Hanya buku-buku “mainstream” yang saya ambil, yang sudah proven, dan yang berembel-embel best seller.

Soal hal ini, jauh di lubuk hati yang terdalam, yang terus-menerus digali lagi seperti sumur, dalaaam sekali, saya ingin menjadi seseorang dengan pemikiran yang ‘berbeda’ dari kebanyakan orang. Untuk bisa seperti itu, salah satu inputnya adalah bacaan yang juga berbeda dengan kebanyakan orang. Mungkin tidak lalu memasukkan buku-buku best seller dalam deretan bacaan terlarang, tetapi lebih kepada bahwa saya harus baca lebih dari itu. Best seller atau bukan tidak jadi soal. Hleb saja.

Maka mulai hari ini, saya hajatkan untuk lebih banyak baca, buku apapun itu. Saya ingin merasakan nikmatnya berputar-putar di toko buku kemudian ‘berjudi’ memilih satu dua buku tak dikenal namun menarik hati. Saya ingin merasakan kenikmatan mendapatkan buku bagus yang tidak dikenal sebelumnya, walaupun tentu saja harus selalu siap dengan kekecewaan kalau isinya biasa saja.

Saya memang bukan book addict atau mungkin belum, entah nanti setelah m_______h. Tapi semoga saya terus bisa memelihara warisan suka baca dari simbah Bobo ini. Apalagi sekarang alhamdulillah sudah bisa cari rezeki sendiri. Tidak seperti zaman kuliah yang pinjam sana-sini (dan tak kembali). Harusnya sekarang saya justru sering meminjami.

Selamat pagi, Bro. Sudahkah anda gemar membaca hari ini?

Mengenang Simbah

Ini bukan hari keempat-puluh, atau hari keseratus, atau bahkan hari keseribu untuk memperingati berpulangnya simbah putri (nenek) saya. Karena sejauh yang saya pahami, tidak ada peringatan-peringatan untuk orang yang sudah mati macam itu dalam agama saya, islam.

Yang saya tahu tentang mengenang seeseorang yang sudah meninggal adalah, mengingat kebaikan-kebaikannya semasa hidup lantas disambung dengan mendoakannya. Itulah yang coba saya tuliskan di sini, walaupun tentu saja tidak akan pernah ada cukup tempat di blog ini. Karena kebaikan simbah saya yang begitu melimpah, sementara doa saya yang terlampau seuprit.

Lalu, mengapa hanya simbah putri (nenek) saja? Simbah kakung (kakek)?

Dari cerita orang tua, sebenarnya simbah kakung tak kalah keren. Tapi rencana Tuhan-lah yang akhirnya mencukupkan umur beliau dikala saya masih sangat belia. Sehingga tak ada yang tersisa dalam memori saya. Tidak dengan gaya guyonnya, tidak dengan nada bicaranya, bahkan wajah beliau pun saya tidak pernah ada gambaran. Saya tidak ingat. Maafkan saya, Mbah.

Baiklah. Kembali ke simbah putri.

Simbah putri saya adalah seorang petani, tipikal wanita kebanyakan di kampung saya waktu itu. Dan seperti kebanyakan orang seumuran beliau, tanggal lahirnya juga kurang jelas. Wajar jika kami sempat menghitung dulu dengan dibumbui terkaan-terkaan saat menulis usia beliau di surat pawartos lelayu. Pendidikannya entah. Belum pernah saya tanyakan. Kalau ditebak, lulus SD pun sepertinya tidak.

Meski begitu, simbah putri saya ini seolah-olah paham betul tentang salah satu ciri makhluk hidup yang diajarkan di pelajaran IPA SD kelas 4, yakni, membutuhkan makan.

Secara teori bisa jadi nol besar. Tapi soal praktek, IPK nya 4 bulat-lat!

Simbah saya ini ketat luar biasa soal jadwal makan. Berangkat sekolah, harus sarapan. Titik! Entah dengan apa, yang penting sarapan. Titik (lagi)!

Sepulang sekolah, pertanyaan pertama dari beliau selalu saja begini: wis mindo urung le? Sudah makan siang belum?

Jawaban saya hampir selalu begini: nanti dulu, bentar lagi. Dan tentu saja selalu berbuah repetisi pertanyaan tersebut hingga akhirnya saya mau makan.

Dan buah dari repetisi yang terus direpetisi itu bisa jadi ada di hari-hari ini, dimana saya jadi tak tahan jika tak segera makan saat jam makan siang tiba. Walaupun belum lapar, tapi rasanya tetap ingin makan. Apalagi, kini sudah ada yang mengontrol dan siap ‘memaksa sekejam-kejamnya’ jika saya tak makan sesuai jadwal dan tak imbang gizi. 🙂

Ah, itu baru soal makan. Belum yang lain-lain. Tentang kerja keras simbah sebagai seorang pembuat tikar dari mendong yang pernah mengajak saya jalan kaki ke pasar sebelum subuh untuk menjual tikarnya. Tentang diajarinya saya mengupas melinjo hingga jari ini perih tak karuan hanya untuk beberapa receh uang. Tentang… Ah… Kata ‘banyak’ sampai-sampai tak cukup mewakili betapa banyak kebaikan-kabaikan beliau.

***

Kurang lebih satu tahun sebelum kepulangannya, simbah diberi cobaan berupa patah tulang paha kanan karena terpeleset dan terjauh di dekat kamar mandi. Simbah tak bisa lagi jalan normal, hingga akhirnya bahkan tak bisa jalan sama sekali. Sejak saat itu simbah hanya tidur-tiduran saja. Hingga akhirnya, tidur untuk selamanya.

Simbah putri, semoga Allah senantiasa mudahkan urusanmu di alam sana. Moga diterima segala amal (engkau bahkan jarang sekali absen sholat jamaah), moga diampuni segala dosa. Semoga kelak kita dipertemukan kembali di Jannah-Nya. Aamiin.

note: Simbah-simbah kita itu besar jasanya. Dengan perantara mereka, Tuhan ciptakan kita ke dunia. Maka coba kenang simbah-simbah anda, lalu jangan lupa doakan. Kalau anda masih normal, setidaknya ada rasa haru yang akan hinggap. Dan bagi sebagian lainnya, menangis mungkin belum lah cukup untuk mengenang budi baik mereka.

Sok Menasihati MaBa

Beberapa hari yang lalu, ketika saya dan adik saya dalam perjalanan untuk menjemput ibu saya yang pulang malam karena bertugas sore hari di Puskesmasnya, percakapan ini terjadi diantara kami berdua.

Adik saya adalah seorang perempuan yang baru saja lulus SMA dan akan segera meneruskan ke jenjang kuliah. Alhamdulillah bisa kuliah, ini nikmat super besar. Namun kegagalannya di tes-tes masuk universitas negeri membuatnya terlempar ke universitas swasta. Tentu memang bukan hal yang diharapkan, tapi itulah yang terjadi. Yang terpenting dari itu sekarang adalah bersiap sebagai seorang mahasiswa baru (maba).

Di awal perjalanan, ketika baru saja keluar dari desa, entah tetiba saya bertanya padanya, “Kapan OSPEK?” Kemudian dia jelaskan tanggal-tanggalnya dan bla bla bla.

Nah!

Seketika itu pula, saya tiba-tiba (sok sok-an) menasihatinya tentang apa bagaimana seharusnya seorang maba itu bersikap. Apa do dan dont nya.

Mungkin alasan sederhana kenapa saya begitu bersemangat menasihati adik saya yang seorang maba ini adalah, karena perkuliahan S1 saya dulu tidak berjalan begitu mulus. Banyak saya temui kegagalan-kegagalan pelik yang sebenarnya bisa saya hindari jika saya lebih tau tentang apa yang akan saya hadapi di kuliah ini. Gampangnya, saya tidak mau kegagalan yang sama terulang di adik saya. Naluri seorang kakak muncul disini, padahal biasanya jarang sekali. haha

Nasihat itu kira-kira seperti ini:

Wahai maba, walaupun tidak seratus persen benar, tapi nasib perkuliahan kalian, akan amat sangat dipengaruhi bagaimana hasil di tahun pertama, di semester satu dan dua. Kok bisa? Ibarat lomba lari, start yang bagus akan mempermudah langkah-langkah berikutnya bagi sang pelari untuk menang. Semester satu-dua pun begitu. Mulai dari kondisi psikis, jika semester satu-dua ini sukses kita lalui dengan nilai baik (IP tinggi), itu akan membuat kita lebih semangat belajar lagi. Ingat, parameter di tahun pertama itu cuma IP, kita belum bisa mengukur keberhasilan kuliah dari seberapa pengalaman seorang mahasiswa di organisasi karena memang masih jadi staff. Jadi IP ini adalah faktor penting penentu psikis.

Maka nasihatnya: mau nggak mau, suka nggak suka, semester satu-dua harus cumlaude, begitu saya katakan ke adik saya. Agak bombastis sih, karena saya tahu betul betapa susahnya mencapai hal itu berkaca dari apa yang saya alami dulu. Saya bilang kepadanya, “Kamu akan jadi semacam orang gila, karena belajar terus-terusan di tahun pertama itu. Main boleh, ikut organisasi silahkan. Tapi prioritas tahun pertama adalah nilai.” Tentu harus dicapai lewat jalan halal, yakni belajar dan tanpa nyontek saat ujian agar IP nya barokah.

Kok harus segitu tingginya mas standarnya? Pake cumlaude segala.

Iya. Karena ternyata dengan nilai yang bagus di tahun pertama, kita akan lebih mudah dapat beasiswa di tahun kedua dan begitu seterusnya. Mau kan dapat beasiswa, tidak lagi bergantung sama orang tua lewat yayasan ayah-bunda foundationnya. *Ada yang senyum-senyum baca ini*

Lagi, sebisa mungkin luar biasa-kan tahun pertama kuliah. Cetaklah nilai yang tinggi.

Tetapi ada saja maba-maba yang tetap gagal di tahun pertama ini. Beberapa sebabnya antara lain:

Satu, kebiasaan jaman SMA yang terbawa sampai kuliah. Apalagi ada jeda liburan yang sangat panjang antara kelulusan SMA dan hari pertama masuk kuliah. Akibatnya, kebiasaan baik jaman SMA bisa berubah jadi buruk, apalagi yang sudah sejak SMA sudah buruk.

Habit yang saya maksud disini adalah hidup keseharian termasuk cara belajar, lama belajar, jam tidur, jam bangun pagi, pola makan, olahraga dan lain-lain. Termasuk juga ibadah. Kuliah itu tantangannya lebih dari SMA, jadi perlu ibadah yang lebih tekun pula untuk menjemput pertolongan Tuhan. Percayalah. Hehe. Yang gagal di tahun pertama ini adalah yang habitnya masih cenderung sama seperti kuliah. Percayalah, habit yang jelek ini akan menghancurkan kalau tidak segera ditangani. Apalagi di kuliah terasa lebih luang. Ini akan menuntun maba ke sebab kedua.

Dua, karena waktu terasa longgar, maba akan cenderung lebih santai dan mengisi waktunya dengan bermain. Entah ke mall, menjajal objek wisata bai mereka yang berasal dari luar daerah, atau sekedar futsal futsal dan futsal. Teman-teman yang baru makin membuatnya tambah asyik. Akibatnya, lagi-lagi lupa belajar.

Tiga, ini yang paling bahaya, yakni, merasa salah jurusan. Ketika mulai kuliah, ternyata materinya lebih susah dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Lalu dia mulai berpikir jurusan yang ia jalani sekarang tidak cocok dengannya. Pemikiran ini menyita lebih banyak waktu daripada belajar. Ia gamang antara lanjut atau pindah. Ingin belajar, tapi kalau ujungnya pindah jurusan juga mubadzir. Tapi mau pindah jurusan, tidak ada keberanian karena memang tidak ada jaminan bakal pasti diterima.

Nasihat saya untuk poin ketiga ini: yakinlah, kamu tidak salah jurusan!

Saya katakan ke adik saya,”Coba perhatikan, Allah itu tidak memasukkanmu ke universitas negeri padahal kamu udah mencoba dua kali tes, itu pasti ada maksudnya. Allah itu memang ingin menempatkanmu disini. Jadi, ya disinilah kamu harus bersungguh-sungguh.”

Ingat, setiap hal di dunia ini terjadi atas izin-Nya. Sejauh kita usahakan yang terbaik yang kita bisa, menurut saya, kita tak akan pernah gagal. Karena kalaupun dimata manusia kita seolah gagal, saya yakin tidak demikian di mata Tuhan. Dia pasti kasih yang terbaik untuk membayar usaha terbaik dari hamba-hambanya, walaupun di mata kita kadang tidak demikian. Tapi siapa to kita ini berani-beraninya sok menilai mana hasil baik-mana buruk. Sudahlah, pilihan Tuhan tidak pernah jelek, kan Dia Maha Tahu. Sedangkan kita cuma sok tahu.

Jadi, yakin saya dan katakan ke diri para maba sekalian: memang ini jalanku!!!

Saya dulu termasuk yang gagal di tahun pertama, tetapi saya tenang-tenang saja karena saya tahu mata kuliah itu bisa diambil ulang di semester-semester depan. Tapi ternyata ini mindset yang salah. Saya kehilangan kesempatan dapat beasiswa di tahun kedua, karena IP saya yang rendah. Pun ketika mengulang, walaupun di satu sisi tambah faham, di sisi lain harus belajar dengan mahasiswa yang lebih muda beberapa tahun juga butuh keberanian dan rasa nggak kenal malu yang cukup besar. Hehe. Ditambah lagi, dengan mengulang mata kuliah, waktu studi saya molor dari normal.

Begitulah sahabat sedikit nasihat saya. Awalnya itu hanya untuk adik saya, tapi kalau sahabat maba sekalian memandang itu baik, maka ambillah. Sekali lagi saya hanya sok-sok an menasihati karean dulu saya tidak lalukan itu. Ketakutan akan ancaman mengatakan yang tidak dilakukan itu terus terang selalu menghantui. Tapi keinginan saya untuk tidak melihat adik saya mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah saya lalukan rasa-rasanya jauh lebih besar.

Sekian. Ambil yang baik, jangan tinggalkan yang buruk. Perbaiki.

Saya dulu jeblok di tahun pertama karena bisa mengulang

Sakit (lagi)

Sabtu pagi lalu saya kecelakaan, jatuh dari motor akibat terpeleset abu vulkanik Kelud yang sampai ke Jogja. Tangan kiri lecet, tangan kanan bengkak. Dari hasil rontgent tadi siang, untungnya tidak retak apalagi patah. Hanya ada “tulang copot” yang sudah tidak lagi menyentuh tulang tetangganya.

Semoga jadi penggugur dosa. Tidak justru mengurangi kuantitas apalagi kualitas amal, malah harus sebaliknya. Tidak juga mempersempit kesempatan dan menyurutkan kemauan untuk makin berilmu dan berezeki yang barokah. Aamiin. Saatnya introspeksi, pasti ada yang salah, hal yang Tuhan ingin ingatkan. Hehe.

Hati-hati di jalan ya sahabat. Pelan-pelan saja, jalanan masih licin. Nyalakan lampu kendaraan. Oiya, jangan lupa doa sebelum bepergian. Hehe.

Nasihat Kamar Kecil

Maaf. Postingan ini tidak bermaksud yang tidak-tidak seputar apa-apa yang ada di kamar kecil. Hanya berbagi hal-hal yang unik. Semua foto diambil di kamar kecil umum, bukan pribadi. Mulai dari yang “standar” hingga yang agak nyeleneh. Ambil yang baik, tinggalkan yang buruk. Mohon maaf jika kurang berkenan, tinggalkan saja.

Mari berhemat air!
Mari berhemat air!
Perhatikan warna urine anda
Perhatikan warna urine anda
Sabar dan siram
Sabar dan siram
Ngeri. Siksa kubur.
Ngeri. Siksa kubur.
OOT. Bukan nasihat, tapi iklan berbau curhat
OOT. Bukan nasihat, tapi iklan berbau curhat

Ke Jakarta (lagi)

Ketika klakson menyalak segila-gilanya, kau tahu ini bukan lagi di Jogja.
@prakosarizal, 29 september 2013.

Telah ada beribu, beratus, bahkan berjuta cerita orang ketika pergi ke Jakarta. Mungkin ini pun tak jauh beda. Mungkin anda pun jenuh mendengarnya. Mungkin terlalu banyak kata mungkin. Tapi yang pasti, inilah versi saya. Seorang udik yang jarang ke kota.

Bersyukur bisa kembali ke Ibukota. Rangkaian keberangkatan Kerja Praktek mengharuskan saya ‘mampir’ dulu ke Jakarta untuk kemudian meluncur ke tanah sriwijaya. Kali ini saya ditemani oleh sahabat saya, partner saya di TIGA TUGAS BESAR kampus (KKN, skripsi, dan kali ini Kerja Praktek): Fadli. Setia benar orang ini. Hayo siapa yang mau?

Kami berangkat dari Jogja pada Ahad pagi dengan kereta bisnis Fajar Utama, yang harga tiketnya 20 ribu lebih murah daripada kereta kelas ekonomi. Tidur, melihat sawah, tidur, melihat sawah, adalah kegiatan yang kami lakukan sepanjang jalan keberangkatan. Tidak membawa makan siang, mengharuskan kami membeli nya ketika di dalam kereta. Dalam usaha mendukung program pemerintah yang tidak membolehkan pedangan kaki lima berjualan di dalam kereta, saya bersikukuh hanya mau membeli makan siang dari authorized dealer: petugas kereta api. Seketika ia pun datang dengan menu nasi goreng dan minuman berasa jeruk. Alamak, nampaknya lezat nian. Harganya pun sebanding dengan nampaknya: 26 ribu! Tapi itu kan nampaknya, nyatanya…

Bukannya tidak enak. Enak. Enak sekali. Hanya satu yang saya agak was-was dibuatnya: pedas sekali!

Ini tentu bahaya bagi saya yang baru beberapa waktu lalu dikaruniai sakit thypus. Bakteri yang namanya mirip pemain telenovela itu membuat saya harus puasa dari makanan pedas hingga setidaknya dua bulan. Dan kemarin itu, belum lah dua bulan.

Tapi apa mau dikata, perut sudah tak mau lagi diajak kompromi. Langsung saya habiskan nasi goreng itu. Untunglah di kampus saya sempat diajari mata kuliah Kimia Analisis. Maka untuk mengurangi konsentrasi pedas, saya lakukan pengenceran dengan minum sebanyak-banyaknya! Jujur saya takut sakit saya kambuh, disamping juga takut dimarahi ibu karena melanggar aturan puasa pedas darinya. Alhamdulillah, aman dan damai hingga tiba.

Setelah sampai di Stasiun Jatinegara pada sore harinya, kami bergegas menuju kediaman Pak Lek nya Fadli di Tebet. Dua kali naik angkot, dua kali tidak mendapat kembalian, dan sekitar dua kali dua ratus meter jalan kaki sudah mengantarkan kami di tempat tujuan. Setelah mengobrol lama dengan Pak Lek dan diberi wejangan seputar dunia per-insinyur-an, kami tidur. Pulas. Seperti merasa belum tidur ketika di kereta. Jangan tanya kami mandi atau tidak. Tidak. Kami mandi.

Pagi tadi, 30 september 2013 jam 07.00, kami harus sudah berada di gedung perusahaan kerja praktek kami untuk melengkapi syarat administrasi. Alhamdulillah semua lancar jaya, dan kami siap be-kerja praktek ria.

Tapi ada yang menarik hati. Dari lantai 28 gedung tempat kami mengurus administrasi tadi, nampak jelas bangunan yang telah lama cuma bisa saya kunjungi lewat angan dan imajinasi: Stadion Gelora Bung Karno. Yeah! Bagi saya, melihat lapangan pinggir jalan saya sudah membuat hati ini berdebar, apalagi stadion. Bergetar!

Maka sejurus kemudian saya dan fadli sudah berada di kawasan GBK, setelah jajan kopi sebentar di pedagang kaki lima yang ternyata asal Sragen. Tidak ada yang kami lakukan selain membayangkan betapa ramainya tempat ini ketika timnas Indonesia berlaga. Apalagi jika U-19. Jebretttlah sudah!

IMG_20130930_092127

Sebenarnya, selain GBK, ada dua tempat lain yang saya pribadi ingin sekali datang kesana. Mereka adalah Masjid Istiqlal dan Gedung MPR-DPR RI. Monas tak masuk hitungan karena sudah pernah. Istana negara juga tak ikut terfikir karena anda tahu sendiri apa sebabnya. Kecuali kalau suatu saat saya diundang kesana. Hehe.

40 menit kemudian, dengan busway berlabirin itu, saya dan fadli telah sampai di Masjid Istiqlal. Mumpung masih waktu dhuha, tak akan kami lewatkan. Sesudahnya, ternyata kami tergoda dengan halusnya karpet Istiqlal. Dan ternyata kami tidur lagi. Lagi-lagi tidur. Tidur kok lagi dan lagi?

IMG_20130930_105909

Kami bangun –lebih tepatnya kaget!- saat petugas masjid membangunkan siapa pun yang tergoda halusnya karpet Istiqlal dengan TOA. Waktu untuk sholat dzuhur tiba. Ternyata ramai juga. Shafnya lumayan. Tak seperti balada masjid-masjid besar yang kadang jamaahnya tak lebih dari satu-dua baris. Nampaknya slogan keren itu telah dipahami benar disini: Dari masjid, kita bangkit!

Sehabis sholat, kami berdua segera kembali ke rumah Pak Leknya Fadli. Perut sudah memanggil, tapi apadaya dompet tak mau dipanggil. Hidup mahasiswa!

Dan untuk Gedung MPR-DPR RI, tetaplah menanti. Suatu saat, insyaAllah.

Semoga bersambung…