Hari Ini di Surabaya

Mungkin hari ini libur nasional. Tapi bagi teman-teman buruh, ini adalah hari raya!

Sejak pagi radio Suara Surabaya (SS) sudah mengabarkan di udara tentang agenda besar hari ini. Seperti biasa, ketika ada ‘gawe’ semacam ini, kepolisian adalah pihak nomer satu yang wajib dihubungi oleh SS, dikaruhke, dan diharap-harapkan jasanya kalau-kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Untunglah, mendengar runtutan informasi persiapan-persiapan dari seorang pimpinan kepolisian di ujung telepon, membuat saya tenang. Semua sudah diantisipasi.

Surabaya ramai sekali di beberapa titik kota. Selain massa buruh dari dalam kota sendiri, sedulur buruh luar daerah yang merasa senasib-sepenanggungan juga turut serta bergabung. Yang dekat seperti Sidoarjo & Gresik, sampai yang agak jauh hingga Mojokerto & Pasuruan. Ramai. Mengutip Bu Risma pagi tadi, “Ya mau gimana lagi, Surabaya kan ibukota provinsi. Kantor gubernur, kantor DPRD ada disini semua. Ya wajar kalau teman-teman buruh dari luar Surabaya juga datang ke sini.”

Dari beberapa poin tuntutannya, teman-teman buruh masih berfokus pada upah minimum yang dirasa masih minim itu. Tuntutan lain adalah penghapusan sistem kerja kontrak. Gubernur Jatim menampung semuanya dan berjanji akan mengawal pembahasannya.

Saya rasa pemprov Jatim cukup mumpuni dalam mengelola aspirasi masyarakatnya, minimal dalam urusan memastikan aksi masa berjalan damai & memastikan aspirasinya sampai. Padahal jika di daerah lain, isu-isu yang diangkat bisa saja berujung kurusuhan.

Coba ingat masalah transportasi online. Di daerah lain diwarnai mogok angkot, bahkan sweeping-sweeping-an. Nah di Jatim, para wakil-wakil supir angkot justru diajak makan malam di Gedung Grahadi bersama gubernur untuk ngobrol dan diskusi yang enak, tidak pakai acara mogok narik segala. Dan hari ini, kembali, kepiawaian serupa diperlihatkan kembali oleh pemprov.

Tapi jangan lupa juga, sebaik-baik pemerintah daerah mengelola massa, kalau massa-nya sendiri bebal dan ngeyelan, ya susah. Maka credit point juga wajib diberikan kepada teman-teman buruh di Jatim yang kooperatif dan santun dalam berunjuk-rasa.

Saya kira ini adalah contoh berdemonstrasi & berdemokrasi yang baik dan bisa ditiru.

Aksinya damai, aspirasinya sampai.

Foto diambil dari sini.

Advertisements

Menulis Lagi

Bismillah.
Setelah sekian lama vakum dari dunia persilatan blogging, doakan saya segera balik kembali dan menghasilkan tulisan lagi. Kevakuman ini sedikit banyak terasa mengurangi keseimbangan dalam hidup saya. Letupan-letupan pemikiran yang tidak tersalurkan kadang justru menyumbat jalan pikiran saya sendiri. Maka dari itulah salah satu alasan saya perlu menulis, yakni sekedar ‘menyelamatkan’ fungsi otak agar terus bisa bekerja normal dan lancar.

Entah tulisan tentang apa itu saya juga belum tahu. Baik dan buruk kualitasnya juga urusan belakangan. Yang terpenting sekarang adalah segera menulis. Apapun. Prinsip ‘perfeksionis’ yang dulu sering saya terapkan saat menulis harus sedikit dikurangi, karena nampaknya itu jadi salah satu excuse untuk tidak menghasilkan tulisan. Padahal, siapa saya, ya tho? Seorang pandir yang walaupun ia telah anggap tulisannya keren, barangkali hanya dipandang sampah dimata orang lain. Jadi, sekali lagi, yang terpenting sekarang adalah segera menulis.

The best preparation of  doing something, is taking action on it

Disisi lain, ada rasa nggak mau kalah sama mbak saya. Dia produktif, hampir tiap pekan bisa 1-2 tulisan di blognya. Bahkan sudah menulis 3 judul novel, walau ada yang belum rampung. Pengunjung blognya sudah puluhan ribu. Keren kan? Saya nggak mau kalah, dong? Walaupun secara konten dan tata bahasa jelas mbak saya jauh diatas saya, yang penting saya nggak kalah dalam produktifitas. hehe. Piss mbak. You’re (again) such a motivation. 🙂

Baiklah. Segera menulis. Sekaligus mengajak sahabat-sahabat saya yang dulu semangat sekali menulis tetapi sekarang juga sedang ber-hiatus ria dari aktivitas bloggingnya. Ayo, tulisan kalian lah yang awal-awal dulu memberanikan saya untuk ikut mencoba menulis. Mari ramaikan kembali dunia persilatan blogging.

The Worst

Bulan ini Alhamdulillah saya berada di penghujung studi sarjana saya. Terancam diwisuda, begitulah jawaban yang sering kali keluar ketika saya ditanya sudah semester berapa. Sebentar lagi dibelakang nama saya akan tersemat S.T, sarjana teknik. Sepintas cuma dua huruf, tetapi tanggung jawabnya tentu tak seringan jika dua huruf itu adalah A.P. atau tiga huruf EKO.

Dalam perkuliahan engineering, khususnya di jurusan saya teknik kimia, satu hal yang selalu jadi landasan umum adalah: perkirakan keadaan terburuk dan buatlah antisipasinya. Ini sakti sekali, karena berlaku di hampir semua hal yang kami lakukan. Baik itu mendesain sistem peralatan, merancang sistem safety, hingga memperkirakan faktor ekonomi pabrik saat tugas akhir. Kalau hasil hitungan kami berkata bahwa ketebalan pipa harus 10 mm, maka otomatis akan ditambahkan 4 mm misalnya, guna antisipasi jika korosi terjadi. Jika korosi yang terjadi ternyata lebih hebat, kita sudah pasang logam lain sebagai pengganti anoda agar bukan logam pipanya yang tergerus korosi. Begitulah kami diajarkan, perkirakan keadaan terburuk dan buatlah antisipasinya, Sejak awal masuk hingga lulus nantinya.

Di masa perkuliahan ini juga, saya sering kaitkan fenomena-fenomena teknik kimia dengan filosofi kehidupan. Terdengar aneh pada saat pertama, tapi setelah dipikir-pikir ada benarnya juga. Ini terinspirasi dari dosen saya yang sering pula melakukan hal ini, salah satunya adalah contoh sederhana berikut. Jika keliru, itu murni karena ingatan saya yang kacau.

Entropy, derajat ketidak-teraturan, nilainya akan terus-menerus membesar. Dibiarkan saja pun, alam ini akan berjalan dengan jalur yang demikian. Ini barangkali salah satu penjelasan kenapa kelak akan ada kiamat, ketika entropy di dunia ini telah sedemikian besar nantinya. Nah, usaha-usaha melawan laju entropy ini sangatlah susah, bahkan untuk memperlambat pun sudah kepayahan. Semua akan lebih gampang untuk menuju ketidak-teraturan.

Ternyata hal ini berlaku juga di hidup manusia. Ambil saja malas vs rajin. Akan sangat lebih gampang menjadi malas ketimbang menjadi rajin. Dibiarkan saja, malas akan datang dengan sendirinya, sementara untuk jadi rajin perlu usaha luar biasa.

Maka jelas, pesan perkirakan keadaan terburuk dan buatlah antisipasinya juga tak luput dari perhatian saya. Khusus yang satu ini sudah seringkali saya terapkan di kehidupan. Hasilnya cukup lumayan. Karena telah bersiap untuk keadaan terburuk, saya tidak serta merta kaget ketika keadaan itu benar-benar terjadi dan yang terpenting telah memiliki cara antisipasinya.

Barangkali anda juga bisa gunakan cara tersebut. Atau bisa jadi telah anda lakukan sejak lama, tapi secara tidak sadar. Tidak apa-apa. Tapi jika belum, mungkin bisa anda coba.

Misalnya ketika lingkungan orang terdekat kita tiba-tiba berubah jadi tak enak. Meminjam kata-kata ustadz Salim sebagai gambaran ketidak-enakan itu: saat keakraban kita merapuh, saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan, saat pemberian bagai bara api.

Maka perkiraan di kondisi terburuk ini adalah: pasti ada yang salah, entah tentang apa, entah siapa. Lalu kita ambil langkah antisipasi atasnya. Jika yang salah adalah orang lain, bersiaplah kita memberi maaf bahkan sebelum diminta. Namun skenenario paling buruk adalah ketika sebenarnya kita yang bersalah tapi tak tahu salahnya dimana. Saya pikir memohon maaf adalah antisipasi terbaiknya, sembari terus meneliti diri sendiri apa sebenarnya yang tidak beres dan bergegas memperbaikinya. Mungkin karena kata-kata yang menyakitkan hati, mungkin tingkah laku yang seenaknya sendiri, mungkin ke-bandel-an diri saat diberi nasihat dan saran, mungkin candaan yang keluar tidak di waktu dan tempat yang pas, atau yang lainnya. Maaf, kami mohon maaf. Setidaknya, kita telah berniat meminta maaf.  Niat yang baik, yang insyaAllah akan disambut tindakan yang baik pula. PR berikutnya sekali lagi adalah introspeksi dan janji tidak akan mengulanginya lagi.

*Tulisannya membingungkan ya? Ya beginilah saya kadang-kadang 🙂

Sisi Lain Pemilu di Akar Rumput

Hari-hari ini, banyak pengamat (dan yang bukan pengamat) telah bicara berbagai kemungkinan pasca pemilu nanti. Bagaimana jika si A yang jadi presiden, bagaimana jika partai X yang mendulang suara terbanyak, dan bagaimana jika-bagaimana jika yang lain. Berbekal track record masa lalu dari berbagai partai dan tokoh, serta menilik visi,misi dan gagasan yang mereka bawa (walaupun saya kira hanya sedikit yang memperhatikan ini), berbagai prediksi tentang kemana arah negeri ini akan dituntun berikutnya, telah bermunculan di sana-sini.

Bahasan-bahasan tersebut lingkupnya besar: nasional. Benar bahwa pemilu adalah agenda nasional, sehingga hasilnya pun harus dibahas di skala itu.

Tapi ijinkan saya menyingkir sejenak dari hiruk-pikuk di lingkup yang amat luas itu. Ijinkan saya menyajikan apa yang terjadi di tataran yang lebih rendah, di lingkup yang lebih kecil, yakni di masyarakat pedesaan. Karena keterbatasan saya, hanya 2 contoh berikut yang bisa saya sampaikan langsung dari akar rumput.

Yang pertama, adalah cerita dari desa tempat KKN saya dulu di tahun 2012. Waktu itu kami –saya dan teman sekelompok KKN- ber-KKN di tanah Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Seperti kebanyakan KKN lainnya, hubungan antara kami dan masyarakat kian hari kian erat. Hingga sampailah cerita-cerita yang ‘dirasa tabu’ itu kepada kami.

Bapak kepala desa waktu itu sungguh luar biasa. Dengan aba-abanya, hampir seluruh warga desa mampu digerakkan. Kecuali beberapa orang yang enggan, tidak mau datang di setiap acara desa. Apapun itu. Padahal beberapa orang itu dan kepala desa dulunya adalah teman karib. Bahkan pak kepala desa sendiri yang bercerita, bahwa mereka dulu adalah kopatriot dalam hal memancing.

Tapi semuanya berubah setelah pemilihan kepala desa. Pak kades terpilih yang notabene kader dari partai P bersaing dengan kawan karibnya itu, yang bernaung di bawah partai Q. Singkat cerita, pak kades terpilih dan kawan karibnya ini semacam tidak terima atau bagaimana saya kurang paham. Hingga pada akhirnya berbuah keengganan bermasyarakat, bahkan tak mau tegur sapa.

Yang kedua, mirip-mirip tapi tak 100 % serupa. Bedanya, yang kedua ini terjadi baru-baru ini (bahkan masih berlangsung hingga hari ini) dan di desa saya sendiri. Saya jadi saksi hidup betapa pemilu kali ini seolah-olah justru mengobrak-abrik jalinan kuat antar tetangga yang telah ada sebelumnya.

Mudahnya, ada dua partai besar yang sedang coba mencaplok mayoritas suara di desa saya. Satu adalah partai yang 2009 dulu menang telak di desa, satu lagi baru masuk ke desa tahun ini. Partai yang dulu menang itu, sayangnya, wakilnya di dewan tak terlalu memperhatikan warga desa kami. Merasa sakit hati dan tidak percaya lagi, mayoritas warga desa mulai mencari wakil baru dari partai lain. Gayung bersambut. Ada caleg yang sedang coba melebarkan sayap, meraup suara dari lahan-lahan basah yang belum pernah ia garap sebelumnya. Beberapa bulan lalu, caleg baru ini sukses besar mengaspal jalanan desa dan menurunkan tiang listrik dari dana pemerintah. Hasilnya, ia dapat perhatian dari tokoh-tokoh desa, dan itu berarti juga dari hampir seluruh warga desa.

Sementara itu, kader-kader partai lama juga masih tersisa, dan tentu saja tidak suka. Bisa ditebak, suasana masyarakat jadi tak karu-karuan. Belum lagi ada caleg dari partai lain, walaupun tak banyak pendukungnya, keberadaannya cukup menambah kehidupan jadi makin abu-abu tak jelas. Hari-hari ini, saya sungguh sedih karena selalu saja muncul sekian banyak gunjingan-gunjingan tentang ketidaksukaan antar berbagai pihak tersebut diatas yang terselip disetiap pembicaraan. Padahal, sekali lagi, dulunya orang-orang itu bersahabat. Ada bahkan dua diantaranya adalah karib dalam dunia rawat-mewarat burung peliharaan. Tapi semua itu berubah, bukan ketika Negara api menyerang. Melainkan ketika para caleg berdatangan.

***

Saya pernah dengar teori macam ini: sebesar apapun Negara, ia tetaplah tersusun dari komponen-komponen kecil, yakni masyarakat. Jika mayoritas masyarakatnya baik, baik lah Negara itu. Pun sebaliknya. Entah itu benar atau tidak, saya kurang tau.

Tentu saja dua contoh diatas hanya contoh kecil saja. Tapi saya hanya khawatir jika di tempat lain yang terjadi tidaklah jauh berbeda. Harmoni yang telah dibagun lama di masyarakat sebelumnya, justru harus jadi korban sebuah agenda pesta nasional bernama pemilu. Saya juga takut jika 2 contoh tadi juga dialami banyak orang di banyak tempat, hingga akhirnya merefleksikan keadaan di lingkup yang lebih besar: negara.

Jika memang iya, tak salah bahwa salah satu sisi lain dari pemilu ini adalah justru memecah belah masyarakat, memecah belah Negara.

Maaf, saya dididik di lingkungan engineering yang nol besar soal ilmu sosial politik. Ini murni pengamatan dan pemikiran dangkal saya lho ya. Hehe. Lantas, bagaimana di daerah anda?

Sakit (lagi)

Sabtu pagi lalu saya kecelakaan, jatuh dari motor akibat terpeleset abu vulkanik Kelud yang sampai ke Jogja. Tangan kiri lecet, tangan kanan bengkak. Dari hasil rontgent tadi siang, untungnya tidak retak apalagi patah. Hanya ada “tulang copot” yang sudah tidak lagi menyentuh tulang tetangganya.

Semoga jadi penggugur dosa. Tidak justru mengurangi kuantitas apalagi kualitas amal, malah harus sebaliknya. Tidak juga mempersempit kesempatan dan menyurutkan kemauan untuk makin berilmu dan berezeki yang barokah. Aamiin. Saatnya introspeksi, pasti ada yang salah, hal yang Tuhan ingin ingatkan. Hehe.

Hati-hati di jalan ya sahabat. Pelan-pelan saja, jalanan masih licin. Nyalakan lampu kendaraan. Oiya, jangan lupa doa sebelum bepergian. Hehe.

Mengapa Nge-Blog?

Dari sekian akun media sosial yang saya miliki, inilah satu yang sangat saya tunggu update-nya. Bukan. Bukan Facebook, bukan pula twitter. Ia adalah WordPress, salah satu arean blogging terbesar di dunianya mbak maya.

Mengapa?

Dosen saya pernah berkata pada kami para mahasiswa, saat pembukaan sebuah acara sharing-session dengan alumni yang sudah sangat senior, sudah kaffah seluk-beluk dunia, baik pekerjaan maupun lainnya : Anda harusnya berbahagia.Pengalaman itu tak ternilai harganya. Dan saat ini akan ada sekelompok orang (para alumni) yang bersedia berbagi dengan anda secara cuma-cuma.

Kurang lebih itulah yang saya rasakan juga ketika ber-Wordpress ria. Mendapat update tulisan terbaru dari blog-blog yang saya ikuti, benar-benar membuat saya bahagia. Itu baru satu, baru pengalaman. Padahal banyak disini yang berbagi lebih dari itu.

Contohnya saja ada Pak I Made Andi Arsana, dosen fakultas saya yang berhasil menempuh studi S2 dan S3 di Aussie dengan beasiswa serta berhasil keliling dunia. Beliau berbagi kiat-kita, jurus-jurus berburu beasiswa yang tak hanya untuk ke Aussie saja, melainkan generik bisa dipakai kemana saja. Tak jarang beliau juga berbagi pemikiran-pemikiran tentang kehidupan. Tentang studi luar negeri, ada pula yang berbagi pengalaman beasiswa Erasmus Mundus ke Eropa. Bahkan menawarkan proof-reading untuk dokumen aplikasinya. Hebat.

Ada lagi Mas Ridwansyah Yusuf Achmad, pernah menjadi ketua BEM di ITB dan baru saja selesai memangku amanat sebagai ketua PPI Belanda sekaligus menyelesaikan studi masternya. Beliau juga tak kalah keren. Mulai dari bagaimana mahasiswa itu seharusnya, hingga bagaimana indonesia itu seharusnya, diolah dengan bahasa yang tak menggurui. Optimisme akan negeri ini selalu hadir tiap kali mampir ke blog beliau, sekaligus belajar politik dari seorang suhu di bidangnya.

Tentu saja ada blog dari sahabat-sahabat saya. Satu yang paling rajin update adalah blog nya mas Dalton Fisabilillah, kakak kelas jaman SMA. Kumpulan ayat quran dan hadist dikemas dalam desain gambar yang tentu saja lebih nikamt untuk dibaca daripada sekedar tulisan saja. Blog ini kadang bisa jadi pengingat, bahwa ada yang lain yang harus diusahakan juga. Yakni kehidupan setelah kehidupan. Blog dari sahabat-sahabat sebenarnya paling menarik untuk dibaca. Kisahnya mungkin sederhana: kehidupan kampus, pergi ke mall, mulai dapat kerja dll. Tapi percayalah, bagi saya efeknya luar biasa! Selain belajar dari mereka, saya sekaligus paham bahwa mereka sedang baik-baik saja.

Travelling. Satu dari blog tentang travelling yang cukup unik adalah yang berjudul honeymoon backpacker. Pasangan suami istri ini merayakan pernikahannya dengan keliling dunia! Wow! Satu tulisan berkisah tentang negara ini. Updatenya, sudah pindah negara lain lagi. Lagi dan lagi. Hebat! Benar ya, bahwa menikah itu melancarkan rezeki. Buktinya, beliau berdua bisa jalan-jalan antar negara. Hehe.

Tak hanya dalam negeri, dari luar negeri pun banyak sekali. Ada mbak Mabel Kwong dari Aussie. Mbak yang keturunan cina-aussie ini membahas hingga detail tentang pertalian kebudayaan antara seorang asia dan australia. Sikap hidup kedua ras diperbandingkan, tentu bukan untuk membeda-bedakan, melainkan agar para pembaca makin memahami antara keduanya. Bagi saya, ini dalam rangka belajar bahasa inggris pula. Ada juga dari mas Subhan Zein. Ini juga dari luar negeri, dan lebih sering berbagi puisi. Cocok bagi anda yang ingin belajar romantis dengan polesan barat.

Ada juga yang tak pernah alpha mendokumentasikan catatan manufacturing hope dari CEO-nya para CEO BUMN: Pak Dahlan Iskan. Tiap hari senin, blog ini selalu menyegarkan dirinya dengan tulisan terbaru Pak Dahlan. Dan seperti judulnya, optimisme lah yang selalu terbangun ketika mengeja kata demi kata dari pak menteri ini. Salut.

Ah, masih banyak lagi blog yang berkualitas yang ada di luar sana. Tidak cukup jika harus tertulis semua disini. Banyak pula blog-blog yang baru saya temukan. Banyaaaaaaaak dan hebat luar angkasa!

Tapi, bukankah lewat facebook dan twitter orang-orang juga membagi pengalaman dan pemikirannya?

Yap! Benar! Tapi ada sesuatu yang beda di dunia blog. Yang tertulis disini, sebagian besar telah melalui ruang-ruang pemikiran para penulisnya. Sehingga yang muncul adalah tulisan yang berkualitas dan bermanfaat. Berbeda dengan facebook dan twitter, yang menurut saya lebih mirip shout out box.

Dan barangkali benar kata teman saya Edi, bahwa menulis di twitter dan facebook itu seperti menulis di pasir pantai. Dalam sekejap ia langsung hilang, tertimbun oleh potingan orang lain yang derasnya minta ampun. Tapi menulis di blog bagaikan mengukir kata-kata di dalam gua. Mungkin memang agak susah ditemukan, tapi ia “kekal”. Karena tiap apa yang ada di blog, kita lah yang mengatur.

Sekali ia keluar dari jemari kita, tulisan akan terus ada. Bahkan jika kita telah meninggalkan dunia sekalipun. Apalagi yang berhasil menyuguhkannya dalam bentuk buku.

Mungkin memang benar adanya. Bahwa menulis, adalah kerja-kerja untuk keabadian.

Mari ber-blogging ria.

Menyaksikan (kembali) Tim Kesayangan

Beberapa tahun yang lalu. Hati berdebar.

Kalau tidak salah, ketika itu masih jaman saya SMP kelas satu. Saya dan seorang sahabat bernama Jati nekat memacu sepeda motor Astrea 800 milik bapak. Berbekal helm dan rupiah hasil berhemat uang saku, kami meluncur ke sebuah tempat yang bisa jadi siang malam kami impikan, untuk menyaksikan sesuatu yang kami idolakan: Stadion Tridadi Sleman dan menonton laga PSS Sleman.

Hari itu kami seperti kesetanan. Tak peduli SIM belum di tangan, tak peduli bahwa kami tak tahu benar tentang jalan. Yang penting berangkat. Hasrat sudah tak kuat lagi untuk dicegat.

Alhamdulillah, kami sampai di Stadion Tridadi dengan selamat. Setelah membeli tiket ( dan bonus rokok), kami pun masuk. Dan.. Waow!  Hati berdebar lebih kencang, seperti genderang mau perang.

Kala itu adalah kali pertama bagi saya menonton langsung laga sepakbola nasional di stadion. Rasanya hebat sekali! Bersama ribuan pendukung setia PSS, Slemania, saya dibuat takjub oleh seisi stadion. Pemain bolanya, suporternya, semangatnya. Luar biasa!

Zaman itu PSS Sleman juga sedang jaya. Prestasi tertingginya menembus empat besar Ligina jelas bukti luar biasa. Saya masih ingat betul nama-nama punggawa tim macam Deca dos Santos, Marcello Braga, Anderson da Silva, Seto Nurdiyantoro, dan sederet lainnya. Kebanggaan tiada tara itu sempat meletupkan sebuah impian di masa kecil: kalau besar nanti, ingin jadi pemain PSS Sleman. Impian yang wajar bagi seorang bocah yang kegirangan akan sepakbola, walau skill bermainnya jauh dibawah standar. Yap, tidak ada yang salah dengan mimpi. Apalagi waktu itu saya dan Jati masih ikut Sekolah Sepak Bola (SSB).

Beberapa tahun yang lalu. Hati berdebar.

***

Dua hari yang lalu. Hati berdebar.

Saya memang kurang ajar! Hidup 22 tahun di Sleman dan telah mengenal PSS Sleman lebih dari 10 tahun, saya bahkan tidak tahu kalau tim kesayangan saya itu kini telah masuk 4 besar divisi utama PSSI, alias semifinal.

Mengetahuii kabar tersebut, hasrat kembali ke stadion itu muncul lagi. Kali ini dengan gelombang yang lebih besar, menyingkirkan tugas laporan kerja praktek yang sudah mengantri  di depan.

Gayung bersambut. Seorang teman SMA bernama Barqun bersedia membelikan tiket untuk kemudian saya ganti. Jadilah saya nonton PSS, yang kali ini sudah hijrah ke Stadion Maguwoharjo. Stadion kelas internasional yang jelas membanggakan seluruh warga Sleman dan Indonesia.

Kali ini tak hanya Slemania. Telah muncul kumpulan supporter baru: Brigata Curva Sud (BCS). Berkali-kali mendengar komentar positif dari teman-teman tentang aksi suporter ini, saya akhirnya hanya bisa meng-amin-i. Saya dibuat takjub oleh koregrafi, kekompakan, lagu-lagu dan kebersamaan kelompok suporter ini. Tidak percaya? Youtube akan menjawab keraguan anda. Dengan adanya BCS, suasana stadion makin meriah dan hingar bingar.

IMG_20131107_185931

Saya pun khusyuk menyaksikan laga semifinal melawan Persitara Jakarta Utara itu. Teriak, loncat kegirangan ketika gol, ikut memprotes wasit adalah beberapa menu malam itu. Menonton langsung di stadion itu sungguh beda dengan menonton di televisi. Mungkin seperti menonton film di bioskop dibanding dengan menonton film (bajakan) di layar laptop. Beda sekali. Sangat lebih hidup.

Dua hari yang lalu. Hati berdebar.

***

Esok hari. Hati berdebar.

Partai final sudah di depan mata. Gelar juara selangkah lagi bisa dipeluk mesra. Kebanggaan warga Sleman pastilah tak terkira. Ahad malam, 10 november 2013 nanti akan jadi hari bersejarah jika PSS Sleman benar-benar bisa membekuk Lampung FC. Ah, saya sudah tidak sabar. Semoga juara.

Esok hari. Hati berdebar. Bersama kita raih juara. Vinci per noi!

IMG_20131107_210306