Manusia

Advertisements

Resolusi

Memulai tahun baru dengan resolusi adalah hal umum. Lalu mengakhiri tahun dengan banyak resolusi yang gagal atau bahkan sudah lupa adalah tidak kalah umum. Jadi, lebih baik tahun ini diawali tanpa resolusi saja. Begitukah?

Resolusi adalah soal perencanaan. Karena kalau soal makanan, itu risoles.

Gambar diambil dari sini

Di pekerjaan, saya beruntung dapat boss yang sangat menekankan hal ini. Ungkapan klise seperti: perencanaan yang bagus sudah setengah dari keberhasilan juga pernah beliau ucapkan. Yang berbeda adalah beliau benar-benar mempraktekkannya. Contohnya ketika kami harus dinas ke luar Pulau Jawa. Dari mulai keberangkatan, jadwal bekerja, selesai jam berapa, lalu makan dimana, beli oleh-oleh dimana, ketemu dengan siapa, harus berbicara apa, perkiraan cuaca, kondisi keamanan daerah tujuan, risk assessment dan banyak hal lainnya sudah beliau siapkan rinci sebelum pergi. Saya kadang malu sendiri karena sajadah saja masih sering lupa tidak terbawa.

Yang menarik, meski boss saya ini sangat planning minded, beliau tidak anti terhadap dinamika yang bisa saja terjadi. Maka dibuatlah rencana A, B, C dst.  Bahkan jika rencana cadangan tersebut tidak ada yang bekerja, beliau cepat ambil keputusan dengan beradaptasi pada keadaan yang ada.

Bagi saya, ini semacam cara  untuk hidup di fast changing world  seperti sekarang. Rencana wajib ada (dan benar- benar dijalankan), tapi bersiap juga untuk menyesuaikan dinamika kedepan. Misalnya, boleh saja kita bercita-cita jadi dokter. Namun jika kepintaran tidak cukup, maka berkeluarga dengan seorang dokter adalah rencana cadangan yang tidak buruk.

 

 

Buku

Membeli buku terasa lebih mengasyikkan daripada membaca yang sudah dibeli – Baru sadar

Waktu ada Big Bad Wolf (BBW) di Surabaya beberapa bulan lalu, saya agak kalap membeli buku. Buku-buku impor yang normalnya saya lihat di Peripl*s harganya dua ratus ribu ke atas, saat itu hampir rata dijual tujuh puluh ribu saja. Matematisnya, yang seharusnya baru dapat 1 buku, di BBW ini bisa dapat tiga sekaligus.

Betapa menggiurkan.

Dan benar, saya tergiur. Lima belas buku diambil, menambah tagihan kartu kredit bulan itu.

whatsapp-image-2016-12-28-at-07-22-40

Sayangnya, seperti saya bilang di awal, membaca buku kadang tidak seasyik membelinya. Apalagi kalau bukunya kurang terkenal dan kita sedang tidak sangat butuh untuk baca buku dengan topik itu. Kadang jadi agak malas membacanya, sehingga selesainya pun molor. Kadang jadi ingin pindah baca ke buku lain saja begitu tahu isi buku yang ini kurang menarik. Dua hal ini terjadi pada saya. Satu lagi, buku yang menumpuk sambil menunggu dibaca itu terasa intimidating. 

Dasar pembaca amatiran. Hahaha.

Tapi di satu sisi, ingin juga baca buku yang sama sekali asing. Tidak terkenal, tidak direkomendasikan teman, tidak masuk kategori best seller, dan tidak punya sisi-sisi yang biasanya menarik orang untuk membacanya. Mengapa? Karena terkadang saya ingin punya sudut pandang dan cara pikir yang beda dengan umumnya orang. Salah satu caranya adalah baca buku yang umumnya orang tidak baca. Hehehe, orang aneh.

Kalian juga boleh coba yang terakhir ini, cuma jangan terlalu berharap dan siapkan diri untuk tidak kecewa. Karena kadang isinya memang kurang bagus, meski pernah juga dapat yang keren dan berbobot. Kita tidak tahu. Namanya juga mencoba, bukan?

Zaman Keirian

Siapa bilang ini zaman kekinian?

Bukan. Ini zaman keirian.

Hati-hati. Bila tidak, arus kan membawamu, kembali di-sono, menuai pilu, membasuh perih (pakai air garam).

Bertahanlah dari sikap iri yang bisa saja muncul saat seorang kawan mengunggah fotonya keliling eropa selagi belajar S2. Sambil main salju, sumringah betul raut wajahnya.

Bersiaplah untuk tidak iri saat temanmu membagi kebahagiannya jalan-jalan beserta dedek bayi tercinta. Tangan kanan mencomot-comot pipi dek bayi, tangan kiri pegang kamera hape buat selfie. Edit-edit sedikit, lalu taruh di Facebook.

Berpuasalah dari keinginan untuk iri saat undangan nikah datang berurutan dan foto berjejer dengan mempelai a la timnas membanjiri timeline. Menghantam bagai serangan Barcelona: bertubi-tubi.

Jangan iri.

Karena mungkin kita tidak tahu perjuangannya hingga sampai di sana. Harus siang malam belajar demi mendongkrak nilai IELTS. Berburu rekomendasi dosen hingga menunggu berjam-jam, berhari-hari di kantor fakultas. Bertahun-tahun searching tips & trik lolos beasiswa.

Karena mungkin kita tidak melihat lelahnya terbangun dini hari hingga tidak bisa tidur lagi, sebab dedek bayi menangis tiada henti. Panik luar-dalam saat dedek bayi sakit panas. Sabar saat dedek bayi jerat-jerit di pesawat sementara penumpang lain menggerutu karena tidurnya terganggu.

Karena mungkin kita lupa bahwa yang satu itu semua ada saatnya.

Jangan iri.

Karena momen-momen kepayahan, sedih, panik, dan banyak yang tak-instagramable lainnya jarang atau bahkan tidak akan dibagi di media sosial. Kita hanya lihat yang baik-baik, yang bahagia-bahagia saja. Sementara sisanya kita tidak tahu.

Jangan iri.

Tapi, syukuri.

Jangan Salahkan Gitarmu

Ini adalah pelajaran penting yang saya dapatkan dari guru musik SMA saya dulu. 

Petuah ini hadir saat saya masih di masa awal belajar nggenjreng dari beliau. Kala itu, yang saya punya hanya gitar akustik (-akustikan) warna merah seharga seratus ribuan, yang menyakitkan jari kalau dimainkan karena jarak senar dan fret bagai langit dan dasar sumur. Maafkan.

Kurang lebih begini bunyinya.

Jangan pernah salahkan gitarmu. Gitaris handal adalah yang tetap bisa bermain keren meski dengan gitar kualitas apapun, jelek ataupun bagus

Betapa tidak jleb!?

***

Kamu mau terus-terusan menyalahkan kondisimu?! Atas segala keterbatasan yang kamu miliki sekarang, apakah cuma akan kamu keluhkan lagi dan lagi?!

Hei bro, meski masih belum punya ini-itu, belum bisa ini-itu, kamu tetap bisa maju dan berkarya bro. Jangan salahkan kondisi, tapi kerenkan diri dengan yang ada saat ini.

Kira-kira begitulah jika petuah guru saya tadi digeneralisasikan.

***

Sekarang gitar sudah lumayan. Tidak bikin sakit. Masih mau menyalahkan gitar lagi? 

Rezeki Tak Terduga

Pernahkah anda mendapatkan rezeki tak terduga dalam hidup ini? 

Inilah salah satu yang bikin hidup selalu lebih seru!

Bayangkan, misalnya, bertahun-tahun Anda memimpikan punya iMac. Tapi mengingat harganya yang selangit versus gaji yang baru setiang listrik, iMac tersebut benar-benar hanya dalam mimpi. 

Tiba-tiba, ndilalahnya, seseorang yang baik hati menjadi perantara rezeki yang tak terduga. Anda dikasih iMac. Dikasih! Free!

Weleh-weleh!

Rezeki tak terduga Anda mungkin bukan iMac, tapi saya percaya Anda pasti pernah mendapatkan nikmat semacam ini. Bisa jadi dapat nilai A untuk mata kuliah yang Anda sebenarnya babarblas nggak paham, atau dapat beasiswa padahal daftar-pun tidak, atau yang lainnya. Rasanya indah, bukan? 

Maka sekali lagi monggo bersama-sama kita syukuri. InsyaAllah bisa bertambah lagi. Nah, supaya rezeki jenis ini makin bertubi-tubi menghampiri kita, kuncinya satu: bertaqwa.