My First Newspaper Blackout

Sik, Sik. Apa itu?

Austin Kleon, seorang penulis & artist asal US yang mempopulerkan seni ini.  Ia yang sedari kecil akrab dengan koran, suatu hari mengalami stuck dan malah iseng-iseng corat-coret artikel koran dengan spidol. Hingga akhirnya tersisa kata-kata yang membentuk kalimat baru, yang ia sebut sebagai poem.

Austin terus lanjut dan mengunggah karya-karyanya di sebuah blog dengan nama Newspaper Blackout. Hingga lambat laun tumbuh kondang di internet & orang lain pun turut mengirimkan karyanya kesitu.  Akhirnya dia cetak karya-karyanya menjadi buku.

My poem

Saya coba membuat versi saya. Awalnya saya ingin membuat perbandingan before dan after nya. Agar terlihat aslinya artikel tentang apa, lalu kemudian menjadi apa. Tapi karena antusias terlalu berkobar-kobar, artikel asli terlanjur tercoret, walaupun masih dapat dibaca utuh isinya. Membacanya dari atas ke bawah, kiri ke kanan ya. Mirip baca koran. Ini sekalian menyemarakkan hari pahlawan.

Before

WhatsApp Image 2017-11-12 at 19.44.04

After

WhatsApp Image 2017-11-12 at 19.44.04 (1)

 

Kenapa ikut-ikutan bikin?

Pertama, karena pengen aja.

Kedua, saya pengen bahas makna “ikut-ikutan”.

Sebelum Newspaper Blackout ini terkenal, Austin Kleon lebih dulu dikenal sebagai penulis buku Steal Like an Artist. Austin percaya bahwa tidak ada seniman yang benar-benar orisinal dalam berkarya. Sedikit banyak ia pasti terinspirasi dari karya lain, atau dalam bahasa kasarnya: mencuri dari karya lain.

Begitu juga Newspaper blackout ini. Ternyata Austin bukanlah orang pertama yang berkarya demikian, melainkan bertahun-tahun yang lalu seniman lain pun sudah mencobanya. Anda bisa simak di TED Talk beliau berikut ini untuk lebih jelasnya.

Mengenai steal like an artist iniada fakta unik berikutnya. Anda tentu tahu Steve Jobs dan Bill Gates, kan? Keduanya ternyata meyakini filosofi ini:

Good artists copy, great artists steal.

– Picasso

Kalau anda pernah menonton film Pirates of Silicon Valley, anda akan tahu bahwa keduanya berlomba mencuri ide untuk membuat PC terbaik. Coba simak cuplikannya berikut.

Tentu ini bukan berarti mengompori plagiasi ya. Bukan. Melainkan bahwa terinspirasi dari karya orang lain itu tidaklah haram. Prinsip amati, tiru, modifikasi sangat pas untuk hal ini.

Jadi, selamat mencuri. 🙂

Advertisements

Berkenalan Dengan Podcast

Karena waktu saya banyak dihabiskan di dalam kendaraan, perlu rasanya agar lebih dimanfaatkan. Ibarat pepatah yang dimodifikasi: sambil menyetir, minum air. Itu sih gampang ya. Dan kan ndak mungkin terus-terusan minum. Kembung perut hamba, laksana sapi glonggongan.

Walhasil sampailah saya pada apa yang disebut Podcast. Apa itu? Secara singkat, podcast adalah rekaman orang ngomong/ ngobrol yang diunggah ke dunia maya sehingga bisa kita dengarkan kapan saja. Mirip seperti radio jadinya. Kenapa namanya podcast? Karena berasal dari “iPod” dan “broadcast”. Lengkapnya bisa dibaca disini ya, panjang soalnya.

Awalnya, saya ketemu podcast milik salah seorang stand up comedian, Adriano Qalbi, yang memasang bendera Podcast Awal Minggu sebagai naungan karya-karyanya. Isinya apa? Silakan dengerin sendiri ya. Yang jelas para pemiersa harus cukup dewasa, baik mental maupun umur. Tidak direkomendasikan bagi yang hanya suka kelembutan. Hehe. Tapi pemikiran-pemikirannya terkadang menarik untuk disimak.

Di podcast ini, saya juga dengarkan Subjective Podcast-nya Iqbal Hariadi, bos marketingnya kitabisa.com. Kegelisahan-kegelisahannya adalah bahan bakar di episode-episode awal. Makin kesini, kontenya makin beragam. Ada bahasan tentang kegalauan pasca kampus, cerita temennya yang bangkit dari bullying, obrolan-obrolan dari temen-temen dia yang punya project sosial, dan rekaman ketika dia bikin live event buat podcast ini.

Selanjutnya, iseng-iseng mempertajam listening skill bahasa inggris, saya coba cari podcast berbahasa inggris. Namun agar saya gampang nyambung, saya cari yang isinya membicarakan Indonesia. The Diplomat Podcast: Asia Geopolitics, podcast yang merupakan salah satu sayap dari media dengan nama yang sama, pernah beberapa kali membahas tentang Indonesia.

Akhir-akhir ini saya juga menyimak podcast karya seorang YouTuber asal indonesia, ialah Benazio Putra, Level Up. Aslinya podcast ini adalah video, yang diubah formatnya menjadi hanya audio saja. Beberapa pekan ini podcast ini menduduki peringkat teratas di Top Charts di iTunes. Memang isinya sungguh berfaedah sih, seputar dunia pra-kerja dan pas-kerja. Silakan dijajal sendiri.

Tentu masih buanyak podcast bertebaran di luar sana. Anda bisa cari di iTunes, atau soundcloud, atau ketik saja di google dan biasanya akan digiring ke websitenya langsung.

***

Podcast sepertinya akan jadi kegemaran baru untuk disimak selain video-an di YouTube. Kenapa? Tidak seperti video, podcast bisa kita simak sambil ngapain aja. Dan di zaman yang orang mau tak mau pasti multitasking ini, beraktivitas sambil berpodcast ria adalah koentji.

Kunca-kunci opo sih?

 

Leher Yang Pegal

Malam itu saya pulang agak larut setelah bertemu kawan lama. Di perjalanan seperti biasa saya hanya ditemani radio. Saat itu ada acara talkshow tentang thibbun nabawi, pengobatan ala Nabi, yang diisi oleh seorang ustadz yang juga praktisi di bidang tersebut.

Ceritanya, mulai awal 2017 ini saya merasakan hal yang aneh di leher saya. Rasanya pegal-pegal dan ketika digelengkan akan berbunyi “klethek-klethek” macam bunyi tulang yang bergeser.

Dari hasil bercerita ke beberapa teman, ada yang bilang itu karena kolesterol, atau karena terlalu lama nyetir mobil, atau karena salah posisi tidur. Tapi semua jawaban itu kurang memuaskan saya. Karena tidak hilang-hilang, saya sebenarnya sudah berniat untuk ke dokter. Niat yang masih belum dijalankan hingga malam itu.

Nah, berhubung ada seorang praktisi kesehatan di ujung radio sana yang sedang membuka tanya-jawab interaktif, iseng-iseng saya coba menelpon.

“Assalamualaikum Pak Rizal.” Kok pembawa acaranya sudah tahu nama saya? Tentu saja, karena saya sudah diterima gate keeper terlebih dahulu sebelum disambungkan ke beliau.

“Wa’alaikumsalam.”

“Silakan Pak Rizal”

“Mohon izin bertanya ustadz, leher saya ini kok terasa pegal-pegal dan kalau geleng kepala itu bunyi “klethek-klethek”. Kira-kira penyebabnya apa ya? Mungkin ada makanan yang perlu dihindari atau perlu dikonsumsi, dan jika ada herbal yang bisa membantu. Mohon sarannya. Terimakasih. Wassalamualaikum”

Tut… Tut… Tut…

Langsung saya keraskan suara radio. Jawaban dari narasumber kurang lebih seperti ini:

“Terdapat plak-plak kolesterol yang menggangu peredaran darah di leher. Penyebabnya tentu saja adalah kolesterol yang terlalu berlebihan. Tolong hindari makanan yang berminyak dan juga “makanan yang tidak bisa jauh dari api”, contohnya soto, rawon, bakso, yang kuahnya selalu dipanaskan (sehingga lemak-lemaknya terpekatkan lama kelamaan). Lakukan olahraga untuk memperlancar aliran darah dan untuk herbalnya bisa dibantu dengan konsumsi minyak zaitun, VCO, dan bawang putih.”

Maturnuwun ustadz.

Jadi Tadi Itu …

Katanya perjalanan paling berat itu adalah ke masjid. Saya, di pagi subuh itu, beruntung sekali bisa menempuhnya. Tumben-tumbenan.

Jarak kosan ke masjid terbilang hanya sak plintengan, 400 meter saja (hasil dari google maps). Saya hanya jalan kaki karena tak punya motor di perantauan ini. Melewati beberapa blok rumah, dari yang mewah hingga yang kosong.

Masjid tinggal 50 meter lagi. Saya jalan terus, hingga ada sesuatu yang mengusik pandangan saya.

Ada sesosok wanita berbaju putih, bukan jubah tapi seperti piyama. Dia berdiri di teras sebuah rumah sebelah kiri jalan. Tangannya bergerak-gerak seperti sedang pemanasan sebelum senam. Karena kaget, saya tak sempat memastikan kakinya ngambah lemah atau tidak.

Buru-buru saya palingkan muka ke depan. Mau lari tapi saya malu sama Gusti. Karena kalaupun itu hantu, masa takut sih. Kan sama-sama ciptaan-Nya. Seperti kita sama kucing.

Welok. Standing party, eh, standing applause!

Tapi pada detik itu, 80% pikiran saya masih belum yakin kalau itu lelembut. “Mungkin si penghuni memang lagi mau olahraga pagi”, batin saya. Memang di komplek perumahan itu kadang sudah ada yang jogging meskipun masih pagi buta.

Fast forward, sholat subuh sudah selesai. Saya pulang ke kosan lewat jalur yang sama. Penasaran dan ingin memastikan, saya lihat lagi rumah yang tadi. Ternyata si wanita sudah tidak ada. Anehnya lagi, ternyata rumah tersebut sudah dipasangi banner bertuliskan DIJUAL dengan ukuran agak besar. Dan lagi, banner itu dipasang hampir mepet dengan pintu depan rumah. Yang artinya, tidak mungkin rumah itu dihuni. Mau lewat mana penghuninya kalau pintu depan saja ketutup banner.

“Ooo, jadi tadi itu beneran hantu.”

 

Hari Ini di Surabaya

Mungkin hari ini libur nasional. Tapi bagi teman-teman buruh, ini adalah hari raya!

Sejak pagi radio Suara Surabaya (SS) sudah mengabarkan di udara tentang agenda besar hari ini. Seperti biasa, ketika ada ‘gawe’ semacam ini, kepolisian adalah pihak nomer satu yang wajib dihubungi oleh SS, dikaruhke, dan diharap-harapkan jasanya kalau-kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Untunglah, mendengar runtutan informasi persiapan-persiapan dari seorang pimpinan kepolisian di ujung telepon, membuat saya tenang. Semua sudah diantisipasi.

Surabaya ramai sekali di beberapa titik kota. Selain massa buruh dari dalam kota sendiri, sedulur buruh luar daerah yang merasa senasib-sepenanggungan juga turut serta bergabung. Yang dekat seperti Sidoarjo & Gresik, sampai yang agak jauh hingga Mojokerto & Pasuruan. Ramai. Mengutip Bu Risma pagi tadi, “Ya mau gimana lagi, Surabaya kan ibukota provinsi. Kantor gubernur, kantor DPRD ada disini semua. Ya wajar kalau teman-teman buruh dari luar Surabaya juga datang ke sini.”

Dari beberapa poin tuntutannya, teman-teman buruh masih berfokus pada upah minimum yang dirasa masih minim itu. Tuntutan lain adalah penghapusan sistem kerja kontrak. Gubernur Jatim menampung semuanya dan berjanji akan mengawal pembahasannya.

Saya rasa pemprov Jatim cukup mumpuni dalam mengelola aspirasi masyarakatnya, minimal dalam urusan memastikan aksi masa berjalan damai & memastikan aspirasinya sampai. Padahal jika di daerah lain, isu-isu yang diangkat bisa saja berujung kurusuhan.

Coba ingat masalah transportasi online. Di daerah lain diwarnai mogok angkot, bahkan sweeping-sweeping-an. Nah di Jatim, para wakil-wakil supir angkot justru diajak makan malam di Gedung Grahadi bersama gubernur untuk ngobrol dan diskusi yang enak, tidak pakai acara mogok narik segala. Dan hari ini, kembali, kepiawaian serupa diperlihatkan kembali oleh pemprov.

Tapi jangan lupa juga, sebaik-baik pemerintah daerah mengelola massa, kalau massa-nya sendiri bebal dan ngeyelan, ya susah. Maka credit point juga wajib diberikan kepada teman-teman buruh di Jatim yang kooperatif dan santun dalam berunjuk-rasa.

Saya kira ini adalah contoh berdemonstrasi & berdemokrasi yang baik dan bisa ditiru.

Aksinya damai, aspirasinya sampai.

Foto diambil dari sini.

Resolusi

Memulai tahun baru dengan resolusi adalah hal umum. Lalu mengakhiri tahun dengan banyak resolusi yang gagal atau bahkan sudah lupa adalah tidak kalah umum. Jadi, lebih baik tahun ini diawali tanpa resolusi saja. Begitukah?

Resolusi adalah soal perencanaan. Karena kalau soal makanan, itu risoles.

Gambar diambil dari sini

Di pekerjaan, saya beruntung dapat boss yang sangat menekankan hal ini. Ungkapan klise seperti: perencanaan yang bagus sudah setengah dari keberhasilan juga pernah beliau ucapkan. Yang berbeda adalah beliau benar-benar mempraktekkannya. Contohnya ketika kami harus dinas ke luar Pulau Jawa. Dari mulai keberangkatan, jadwal bekerja, selesai jam berapa, lalu makan dimana, beli oleh-oleh dimana, ketemu dengan siapa, harus berbicara apa, perkiraan cuaca, kondisi keamanan daerah tujuan, risk assessment dan banyak hal lainnya sudah beliau siapkan rinci sebelum pergi. Saya kadang malu sendiri karena sajadah saja masih sering lupa tidak terbawa.

Yang menarik, meski boss saya ini sangat planning minded, beliau tidak anti terhadap dinamika yang bisa saja terjadi. Maka dibuatlah rencana A, B, C dst.  Bahkan jika rencana cadangan tersebut tidak ada yang bekerja, beliau cepat ambil keputusan dengan beradaptasi pada keadaan yang ada.

Bagi saya, ini semacam cara  untuk hidup di fast changing world  seperti sekarang. Rencana wajib ada (dan benar- benar dijalankan), tapi bersiap juga untuk menyesuaikan dinamika kedepan. Misalnya, boleh saja kita bercita-cita jadi dokter. Namun jika kepintaran tidak cukup, maka berkeluarga dengan seorang dokter adalah rencana cadangan yang tidak buruk.